Home Nasional Politik Pendidikan Ekonomi Olahraga Kesehatan Hiburan Hukum

Menyelamatkan Masa Depan: Menjaga Sekolah dan Lingkungan Kita dari Intaian Narkoba

Menyelamatkan Masa Depan: Menjaga Sekolah dan Lingkungan Kita dari Intaian Narkoba


Oleh: Abednego Bangun, SH
(Ketua Umum Gerakan Anti Narkoba / GIRAB-FKPPI)


Jurnal-ankol.id; Tangerang-Narkoba bukan lagi sekadar ancaman yang jauh di luar sana. Hari ini, barang haram tersebut telah mengetuk pintu-pintu rumah kita, menyusup ke lingkungan tempat tinggal, bahkan merayap masuk ke koridor-koridor sekolah tempat anak-anak kita menuntut ilmu. Fenomena ini bukan lagi sekadar masalah hukum, melainkan sebuah krisis kemanusiaan dan moral yang mengancam keberlangsungan masa depan bangsa.

Sebagai ketua Gerakan Anti Narkoba (GIRAB), saya melihat langsung bagaimana pola penyebaran narkoba dalam pergaulan remaja telah berubah menjadi sangat manipulatif. Narkoba sering kali dikemas dalam narasi sesat sebagai simbol modernitas, solidaritas kelompok, atau bahkan solusi instan untuk mengatasi tekanan mental dan stres akademis. Remaja, dengan psikologis yang masih labil, menjadi sasaran empuk dari doktrin keliru ini.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar yang kuat. Merujuk pada Survei Nasional BNN, angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia telah menyentuh 2,11% atau setara dengan 4,15 juta jiwa penduduk. Yang sangat mengiris hati adalah kelompok pelajar dan remaja pada rentang usia 15–24 tahun justru mengalami lonjakan angka pengguna yang signifikan, yakni dari 1,81% naik menjadi 2,53%. Lebih lanjut, data BNN mengungkap bahwa setidaknya 312 ribu anak usia remaja di Indonesia telah terpapar narkotika, dengan mayoritas masuk dalam kategori coba pakai akibat desakan lingkungan pergaulan.

Lingkungan pergaulan memegang kendali yang sangat besar. Ketika seorang anak terjebak dalam lingkaran pertemanan yang salah, rasa takut ditolak sering kali mengalahkan akal sehat mereka. Dari sekadar coba-coba karena bujukan teman, mereka akhirnya terjerumus ke dalam jurang ketergantungan yang merusak sistem saraf, menghancurkan masa depan, dan tidak jarang berujung pada kematian.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk menyemai nilai-nilai luhur dan prestasi kini berada dalam status siaga. Pengedar tidak lagi beroperasi di tempat gelap, melainkan memanfaatkan jejaring pertemanan di sekolah untuk mendistribusikan zat-zat berbahaya ini. Dampaknya sangat fatal. Konsentrasi belajar menurun drastis, perubahan perilaku menjadi agresif, hingga hilangnya empati adalah sedikit dari banyak ruang kehancuran yang ditimbulkan.

Melalui artikel ini, GIRAB ingin memberikan pencerahan sekaligus seruan aksi nyata bagi seluruh lapisan masyarakat. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau menganggap ini hanya tugas kepolisian. Kita membutuhkan sinergi tiga pilar utama: keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Orang tua harus menjadi sahabat utama bagi anak di rumah, mendengarkan keluh kesah mereka agar anak tidak mencari pelarian di luar. Pihak sekolah wajib memperketat pengawasan, melakukan edukasi berkelanjutan melalui program mitigasi, dan menciptakan ruang kreativitas yang sehat. Sementara itu, warga di lingkungan pemukiman harus meningkatkan kepedulian terhadap aktivitas mencurigakan di sekitarnya.

Mari kita sepakati bersama bahwa membiarkan narkoba masuk ke lingkungan kita sama saja dengan merelakan satu generasi hilang. Melalui gerakan bersama yang konsisten, kita pasti mampu memutus mata rantai peredaran narkoba demi anak cucu kita. Katakan tidak pada Narkoba, dan katakan ya pada masa depan yang gemilang.

***Red,Jurnal-ankol.id***

Penilaian Pembaca
5.0
2 pembaca memberi penilaian

Bagaimana menurut Anda?
Terima kasih atas penilaian Anda
Lihat Semua Berita
Ad Space Available Pasang iklan Anda di sini
Ad Space Available Pasang iklan Anda di sini
Ad Space Available Pasang iklan Anda di sini
Berhasil
Rating berhasil dikirim.